Kontroversi Racun Kalajengking

Presiden Joko Widodo sempat menyinggung tentang racun  kalajengking pada pembukaan Musrenbangnas dalam Rangka Penyusunan RKP 2019. Pernyataan tersebut seketika menjadi isu politik yang menuai beragam respon baik dari partai oposisi maupun partai pendukung.  Pada pembukaan tersebut Presiden Jokowi mengatakan bahwa komoditas paling mahal di dunia ini bukanlah emas, melainkan racun kalajengking. Menurut Presiden Jokowi harga racun kalajengking mencapai 10.5 juta USD per liter, atau sekitar Rp. 145 miliar. Menyambung pernyataannya tersebut, Presiden mengatakan bahwa harga komoditas-komoditas supermahal tersebut masih kalah dibandingkan nilai dari waktu.

 

Potensi luar biasa racun kalajengking

Terlepas dari pernyataan Presiden Jokowi pada pidatonya dalam dunia kedokteran memang racun kalajengking mempunyai potensi yang sangat besar. Secara ilmiah racun kalajengking berpotensi untuk menjadi bahan baku obat, termasuk untuk terapi kanker. Alasannya adalah racun ini mempunyai molekul yang kecil dan dapat menjangkau bagian tubuh yang hampir tak bisa dicapai, misalnya otak. Penasaran tentang racun kalajengking? Simak beberapa hal berikut ini.

 

Yang menjadi alasan mengapa racun ini sangat berharga karena kelangkaannya dan jumlahnya yang sangat sedikit. Seekor kalajengking mempunyai sifat racun judi poker online yang berbeda, contohnya apakah racun diproduksi untuk membunuh atau karena terdesak. Inilah sebabnya membuat racun yang sangat spesifik sangatlah sulit.

 

Sementara itu hingga saat ini ilmuan baru dapat mengetahui fungsi dari venom ini sebesar 10% saja. Pembeli tentu enggan mendapatkan racun dari perusahaan yang tak jelas dan tak terstandarisasi dengan baik karena berhubungan dengan penelitian ilmiah serta nyawa manusia. Perusahaan resmi yang menjual racun kalajengking, yaitu Sigma Aldrich, menghargai venom ini Rp 16 juta per 10 mg-nya.

 

Bisa jadi obat kanker

Ternyata jenis racun  yang diproduksi oleh kalajengking sejenis dengan racun yang dihasilkan ular kobra, yaitu racun syaraf. Racun tersebut dapat masuk dengan cepat  ke dalam sel syaraf terutama pada penyakit kanker otak sehingga menjadi terapi kanker pada beberapa kasus. Yang menjadi masalah selama ini adalah obat-obat kanker yang digunakan biasanya mempunyai molekul yang besar sehingga sulit terserap ke bagian tubuh yang susah dijangkau.

 

Di Amerika sendiri terapi kanker dengan venom kalajengking ini pernah dilakukan kepada pasien kankaer berusia 2 tahun. Seorang dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB, menyatakan bahwa venom dari serangga beracun itu berpotensi menjadi obat masa depan yang luar biasa, dan sesungguhnya tak hanya dari kalajengking tapi juga binatang yang lain. Keunggulan obat-obatan olahan dari racun hewan ini adalah ukurannya kecil dan demikian pula efek sampingnya. Selain itu pasien juga terhindar dari kecanduan.

 

Di sejumlah Negara Afrika kalajengking sengaja diternak untuk dipanen racunnya sebagai pengobatan untuk sengatan kalajengking itu sendiri. Cara mengambil venom hewan ini adalah menggunakan kejut listrik pada ujung ruas-ruas ekor kalajengking dengan hasil yang sangat minim. Untuk menghasilkan racun hewan tersebut harus mengalami proses fisiologi yang sangat rumit dan mahal termasuk berkaitan dengan asupan makanannya. Hingga saat ini juga belum diketahui dengan pasti hingga berapa lama kalajengking ternakan bisa diproduksi racunnya (milking).

 

Perlu diketahui bahwa pengambilan racun bisa mengurangi umur hewan karena ini bukanlah kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh kalajengking. Racun adalah mekanisme pembelaan diri saat terancam bahaya atau tengah mencari mangsa. Untuk  sekali milking racun yang diperoleh hanyalah sebesar 0.06 mg hingga 0.25 mg. Paling banyak pengambilan racun ini bisa sekitar 3 kali seminggu dan ini sudah sangat optimal untuk jenis kalajengking yang masa hidupnya antara dua tahun hingga tujuh tahun.